Warga Lampung Tengah Resah, Harga Elpiji 3 Kg Naik Tapi Stok Selalu Kosong
RUBRIK, LAMPUNG TENGAH – Stok gas elpiji 3 kg saat ini mengalami kelangkaan. Warung yang menjual gas tersebut sampai mengalami kekosongan barang karena pengurangan tabung gas 3 kg. Hal ini membuat resah masyarakat yang kesehariannya menggunakan gas melon untuk memasak.
Itu seperti yang dialami Mukhlis, penjual gorengan di Pasar Bandarjaya. Biasanya ia membeli gas elpiji hanya di satu tempat tetapi saat ini harus mencari ke toko penjual gas lain untuk mendapatkan gas elpiji tersebut.
“Saya harus muter-muter dulu. Kalau ada yang jual gas saya berhenti, dan selalu dibilang habis. Saya coba ke pangkalan juga ditolak. Bingung harus ke mana lagi mencarinya. Padahal untuk kebutuhan tiap hari,” terangnya.
Kebingungan tak mendapat gas tidak hanya dialami Mukhlis. Pemilik salah satu pangkalan, Suhadi Romli mengatakan, awal September sudah mulai harga gas naik. Per minggu dikirim 560 tabung, begitu datang langsung diambil pelanggan.
“Gas 3 kg distok oleh PT Gemuruh Semesta setiap hari Jumat sebanyak 560 tabung yang nantinya akan dibagi menjadi setengahnya dijual grosir untuk warung-warung dan setengahnya lagi untuk dijual eceran,” terangnya.
Menurutnya, kelangkaan gas elpiji 3 kg kemungkinan disebabkan kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan tabung gas elpiji 5 kg. “Kemungkinan kelangkaan gas elpigi 3 kg di Lampung Tengah memang disengaja dilakukan karena tabung gas 3 kg secara perlahan agan dialihkan menjadi 5 kg,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah Riagus Ria berharap, pengawasan ketat terhadap pendistribusian elpiji 3 kg yang dilakukan oleh Pertamina. Apalagi saat ini harga elpiji yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin mengalami kenaikan yang bervariasi. Ia khawatir kondisi tersebut sengaja diciptakan.
“Monopoli oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mungkin saja terjadi. Sehingga akhirnya mengakibatkan harga elpiji tidak sama dan cenderung mengalami kenaikan,” ungkap anggota DPRD ini.
Ia mengatakan, gas elpiji 3 kg yang diperuntukkan bagi masyarakat kecil sebaiknya benar-benar tepat sasaran, pengawasan terhadap penyalahgunaan pun harus dipantau dan mendapatkan perhatian.
“Gas elpiji 3 kg itu untuk masyarakat kecil, makanya harus terus dilakukan pengawasan dan terus dipantau agar tepat sasaran,” tegasnya
Selain langka, harga gas elipiji di tingkat pengecer juga mengalami kenaikaan. Tadinya hanya Rp 20 ribu kini mencapai Rp 23 ribu per tabung. Sedangkan untuk di tingkat distributor awalnya harga grosir hanya Rp 18 ribu-Rp 19 ribu per tabung kini menjadi Rp 20 ribu sampai Rp 20.500 per tabungnya.(*)