Prihatin! Di Desa Ini Perempuannya Banyak Jadi TKI
RUBRIK, LAMPUNG TIMUR – Profesi tenaga kerja Indonesia (TKI) masih menjadi pilihan terbaik saat semakin sulitnya mencari pekerjaan di negeri sendiri.
Di Desa Bandaragung, Kecamatan Bandarsribhawono, Lampung Timur. Dalam satu desa 900 jiwa diantaranya mengadu nasib di luar negeri. Sekretaris Desa Bandaragung Rosman mengakui, mencari pekerjaan di desa cukup sulit selain penghasilan yang tidak seimbang dengan biaya hidup.
“Jika tidak memiliki keterampilan khusus atau memiliki modal besar untuk usaha, mayoritas mereka bekerja sebagai buruh bangunan atau buruh tani,” terang Rosman, Minggu (19/8/1018).
Bekerja sebagai buruh dengan penghasilan rata rata 80 ribu per hari, dinilai hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. “Itupun jika setiap hari ada pekerjaan,” kata Rosman.
Alasan itulah yang membuat warga Desa Bandaragung memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri. Rata-rata mereka yang mengadu nasib ke luar negeri usianya menginjak produktif dari 22 sampai 40 tahun. “Mayoritas yang menjadi TKI yaitu kaum perempuan,” kata Rosman.
Penyaluran TKI yang cukup tinggi dari Desa Bandaragung, menjadi sorotan pemerintah pusat hingga dibangunkan rumah desmigratif. Fungsinya menjadi tempat konsultasi keluarga TKI yang di tinggalkan. “Bukan hanya konsultasi, tapi rumah desmigratif menjadi rujukan belajar anak-anak TKI yang ditinggalkan,”ujar Agnesia yang mengurus rumah desmigratif.
Lanjut Agnesia, 900 warga Desa Bandaragung yang bekerja di luar negeri tersebut merupakan data dari 2016. Tentu saat ini masih banyak lagi warga yang menunggu di penampungan atau di rumah untuk berangkat ke luar negeri. Tujuan mereka rata rata Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.(gus)