Luar Biasa, Siswa Indonesia Boyong 44 Medali di Ajang Debat Internasional
RUBRIK, JAKARTA – SMP dan SMA Global Sevilla Putri Indah, Jakarta mengirim 12 siswanya pada ajang Debat Internasional atau World Scholars Cup (WSC) yaang diselenggarakan di Universitas Yale, Amerika Serikat. Tema debat kali ini adalah Imperfect World.
Lomba yang terbagi atas debat lisan dan tulisan secara individual dan grup ini menguji wawasan siswa dari 44 negara. Dalam ajang debat internasioanl ini, 12 perwakilan Indonesia ini membawa pulang 44 medali.
Di antaranya ada Julius Owen Suherman mengumpulkan 12 medali, Alexandra Annika (5), Angelica Marta (3), Basilio Otto Suherman (4), Wirayuda Hendro Gunawan (2), Morgan Thomas Coomes (4), Bianca Evangelista Tjahjadi (3), Evan Haryowidyatna (3), Adler Edsel (4), Aurelia Vidyani Sidin (2), Yasa DanaviraTjoe(1), dan Kenny Kusnadi (1).
Menurut Kepala Sekolah Global Sevilla Puri Indah, Fitri Krisnawati, prestasi ini menunjukkan kepada dunia bahwa kemampuan bahasa Inggris siswa Indonesia sangat baik.
“Kami tak pernah mengira bisa membawa puluhan medali. Awalnya, kami hanya menargetkan satu atau dua medali saja,” ujar Fitri.
“kemampuan bahasa asing menjadi hal yang tidak bisa dielakkan lagi,” tambahnya.
Fitri mengatakan, Owen yang berhasil meraih 12 medali (8 emas dan 4 perak) itu didapuk menjadi peserta nomor satu terbaik dari Indonesia. Owen juga menjadikan Indonesia berada di posisi 14 pada lomba Debat Internasional ini.
Fitri menambahkan setiap tahunnya, lomba Debat Internasional ini selalu menguji pesertanya dengan tema yang unik.
Sedangkan menurut Owen sendiri, WSC merupakan lomba yang sangat menguras otak karena menguji wawasan ilmu pengetahuan siswa dengan kecakapan berbahasa Inggris. Namun berkat latihannya berbahasa Inggris baik di rumah maupun di sekolah membuahkan hasil.
“Saya termotivasi untuk meraih banyak medali, karena pada tahun sebelumnya gagal meraih medali,” kata Julius Owen.
Seperti yang dilansir dari antaranews.com, Direktur Global Sevilla, Robertus Budi Setiono juga menjelaskan alasannya mengenai pihaknya mengikuti WSC itu karena ingin memberikan peluang kepada anak didiknya melihat dunia.
“Kami ingin siswa tidak jago kandang melainkan bisa bertarung dengan siswa terbaik dari seluruh negara,” jelas Robertus.(*)