Meski Belum Ada Kasus Difteri, Diskes Lamtim Upayakan Berbagai Pencegahan
RUBRIK, LAMPUNG TIMUR – Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sejak Januari hingga November 2017 angka kematian akibat difteri telah mencapai 32 dari 593 kasus yang ada.
Dari data tersebut ditemukan fakta bahwa sebanyak 66 persen kasus terjadi pada mereka yang tidak menjalani vaksinasi sama sekali, 31 persen pada mereka yang menjalani vaksinasi tidak lengkap.
Dan bagi mereka yang menjalani vaksinasi lengkap risiko terjangkit difteri hanya mencapai tiga persen, namun itu juga lebih didominasi karena kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Lampung Timur, Samsu Rijal, hingga saat ini di Lampung Timur belum terdapat kasus difteri, tetapi pihaknya telah siagakan di seluruh UPTD dan Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana untuk melakukan penanganan serius bila ditemukan gejala maupun yang terpapar difteri.
Samsu menambahkan, bila anak telah terimunisasi DPT, maka akan terlindung dari penyakit tersebut. Tetapi upaya pencegahan tersebut harus selalu diupayakan sebagaimana diamanatkan Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim.
“Upaya tersebut akan dilakukan jajaran dinas kesehatan bekerja sama dengan guru-guru untuk menjaga kebersihan di sekolah, dan para orangtua pun kami minta untuk turut menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan sekitar,” ujarnya, Kamis (7/12/2017).
Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib Pemerintah Indonesia termasuk Kabupaten Lampung Timur.
“Imunisasi DPT dapat diperoleh di puskesmas atau posyandu, dan imunisasi pertama dapat dilakukan setelah bayi berumur dua bulan,” jelas Samsu Rijal.
Sebagaiamana diketahui, difteri sendiri merupakan infeksi bakteri yakni bakteri Corynebacterium Diphtheariae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul yakni 2 hingga 5 hari.
Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limpa pada leher, lemas dan lelah, serta pilek yang awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
Sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Disamping melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
Selain itu juga melalui sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.(*)