Meski Di Halalkan MUI Para Orang Tua Masih Enggan Berikan Vaksin MR

0
657
Rubella,MR, MUI, Portal Lampung, Rubrik Berita, Media online Lampung
Iustrasi pemberian vaksin :gbr/Istimewa

RUBRIK, BEKASI -Terkait dengan Vaksin Rubela Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa vaksin jenis measles and rubella (MR) dari Serum Institute of India (SII) haram karena mengandung unsur non halal lantaran mengandung babi dan organ manusia.

Karena pernyataan tersebut membuat sejumlah warga mempertimbangkan apakah akan memberikan vaksin MR tersebut atau tidak pada anak mereka. Seperti hal nya di Bekasi, Jawa Barat.

Ialah Yuli, warga Bekasi yang memiliki balita usia 3 tahun. Ia mengatakan bahwa sebelum MUI memngeluarkan fatwa haram akan vaksin MR ia memberikan vaksin MR kepada anaknya. Namun setelah ia mengetahui bahwa vaksin tersebut haram ia tidak akan memberikan vaksin tersebut pada anaknya.

“Namanya haram tetap haram, saya tidak akan vaksin lagi,” kata Yuli

“MUI telat mengeluarkan fatwa, kenapa tidak dari awal,” cetus warga Kecamatan Rawalumbu ini.

Sama halnya dengan Rina dan Buana, warga Bekasi yang memiliki anak berusia lima dan dua tahun ini enggan memberikan vaksin lagi untuk anak mereka. Setelah mengetahui bahwa kandungan vaksin mengandung babi dan organ manusia Rina tidak akan memberi vaksin lagi kepada anaknya.

“Yang pertama vaksin, setelah ini enggak lagi,” ujar Rina

“Seminggu lalu anak saya vaksin MR, sudah terlanjur masuk, mudah-mudahan tidak apa-apa,” kata Buana.

Melansir merdeka.com, Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa vaksin MR mengandung unsur tidak halal namun meskipun begitu MUI tetap memperbolehkan karena kondisi darurat.

Keputusan tersebut tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk Dari SII untuk Imunisasi yang diterbitkan di Jakarta, Senin (20/8).

“Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syariyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal,” demikian bunyi ketentuan hukum dalam fatwa MUI tersebut.(*)

LEAVE A REPLY