Kelompok Wanita Tani Lamtim “Sulap” Singkong Racun Jadi Ice Cream
RUBRIK, LAMPUNG TIMUR – Tahukah Anda dengan singkong atau ketela pohon? Ya, tanaman singkong atau ketela pohon banyak tumbuh di Indonesia dan tanaman ini termasuk kategori bahan makanan pokok di daerah tertentu sebagai pengganti nasi.
Ternyata oleh tangan-tangan kreatif jenis singkong racun sekalipun dapat diolah menjadi bahan makanan yang enak dan disukai banyak orang. Seperti di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Sari, Dusun 8, Desa Braja Harjosari, Kecamatan Selebah, Lampung Timur.
Para anggota KWT ini hanya menggunakan peralatan sederhana dapat mengolah makanan yang berbahan dasar sari pati singkong racun untuk membuat ice cream, brownis, tusuk gigi, gorengan, mie, dan tepung dalam kemasan 1 kilogram.
Menurut Misbahul Munir selaku pembina dan juga Kepala Desa Braja Harjo Sari, hasil olahan dari bahan baku singkong racun ini belum banyak dikembangkan karena keterbatasan modal dan peralatan.
Singkong racun yang sudah kita iris-iris lalu difermentasi sehingga menghasilkan sari pati dan dapat dijadikan tepung sebagai subtitusi bahan yang membantu membuat makanan agar tidak banyak menggunakan tepung terigu atau sebagai pengganti terigu.
“Hasil karya kelompok wanita tani Putri Sari untuk sementara ini masih berdasarkan pesanan dan juga bekerja sama dengan empat toko kue di sekitar desa saja karena masih keterbatasan modal dan peralatan,” jelas Munir.
Untuk itu pihaknya terus berupaya mengenalkan hasil karya KWT Putri Sari kepada Pemerintah Lampung Timur agar kedepan dapat diperhatikan.
“Target kami kedepan KWT Putri Sari dapat terus berkarya dan berinovasi dan dapat mengajarkan kepada KWT-KWT lain dan ibu PKK lainnya dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya,” ungkap Munir.
Menurut Munir, untuk lebih meningkatkan kesejahteraan warganya, pemerintah daerah harus peka dan melihat apa kebutuhan warganya. Karena orang-orang yang kreatif dan pandai berinovasi sangat butuh dukungan dari pemerintah daerah agar semangat berkreasi tidak pernah berkurang guna untuk meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut. (Ddy)