Terhimpit Masalah Ekonomi, Pasutri di Kotagajah Alami Gangguan Jiwa

0
336
Orang gila, Kemiskinan di Lampung, warga Lamteng Stres, Loekman Djoyosoemarto
Kondisi Rumah Warga Kotagajah yang mengalami gangguan jiwa

RUBRIK, LAMPUNG TENGAH – Kondisi ekonomi yang memprihatinkan menjadi salah satu faktor pasangan suami-istri (pasutri) di RT 074/RW 037, Dusun Gajah Timur IV, Kampung Kotagajah Timur, Kecamatan Kotagajah, Lampung Tengah, mengalami gangguan jiwa.

Mirisnya, Mimin Sudarto (50) dan Jiyah (46) harus merawat anak bungsunya Reno Anwar (8).

Ketua RT 074 Purwanto menyatakan bahwa Mimin dan Jiyah memiliki empat anak.

 

“Anaknya empat. Paling tua meninggal. Kemudian Dedi Kurniawan (18) pergi entah ke mana tak pulang-pulang dan Septiana (14) diadopsi warga Kampung Kotagajah Timur. Septiana dipondokkan yang mengadopsi di Pulau Jawa. Jadi yang tinggal bersama Mimin dan Jiyah adalah Reno,” katanya, Jumat (6/4/2018).

Rumah berdinding papan berukuran 6 x 7 meter dengan atap asbes ini, kata Purwanto, dibangun warga secara gotong-royong.

“Warga yang bangun rumah ini dulu. Gotong-royong bersama. Kalau tanahnya memang warisan dari orangtua Jiyah,” ujarnya.

Terkait kondisi kejiwaan Mimin dan Jiyah, sudah terjadi cukup lama.

“Kalau Jiyah sudah lama. Sudah sekitar 10 tahunan sakit. Tapi, lima tahun terakhir bertambah parah ketika Reno berumur sekitar 2 tahunan. Kemudian satu tahun terakhir ini, Mimin juga mengalami gangguan jiwa karena melihat kondisi Jiyah,” ungkapnya.

Purwanto melanjutkan, kondisi kejiwaan keduanya kambuh-kambuhan. “Kambuh-kambuhan. Kalau kumat ngoceh melantur nggak karuan. Tapi, tidak mengganggu warga. Meskipun terkadang ada warga yang takut,” ucapnya.

Kalau keluarga Mimin dan Jiyah, kata Purwanto, tidak ada yang tinggal di kampung tersebut.

“Nggak ada di sini. Pak Mimin yang masih punya keluarga di Purbolinggo, Lampung Timur. Tapi, nggak pernah ada yang datang,” katanya.

Begitu juga anaknya, kata Purwanto, tidak pernah datang.

“Anak perempuannya yang diadopsi juga nggak pernah datang. Mungkin malu lihat keadaan orangtuanya. Kalau yang laki-laki nggak tahu ke mana. Sudah hampir lima tahunan nggak pulang,” ungkapnya.

Ditanya apakah tidak ada yang berniat menyekolahkan Reno, kata Purwanto, Jiyah tidak memberikan izin.

“Ibunya nggak ngasih sekolah. Sudah ada yang mau mengadopsi, tapi tak diperbolehkan. Jadi sehari-hari, Reno hanya bermain di ledeng dan sawah sekitar rumah,” katanya.

Masalah makan, kata Purwanto, dikasih warga dan terkadang Reno yang meminta tetangga.

“Mengandalkan pemberian warga. Kadang Reno ke rumah warga minta makan,” ungkapnya.

Sedangkan anggota Badan Permusyawaratan Kampung Guno Asmoro menyatakan bahwa hasil musyawarah akan dilakukan bedah rumah milik Mimin.

“Kita sudah musyawarah untuk membantu keluraga Pak Mimin. Bantuan donatur dari berbagai kalangan akan direalisasikan tiga tahap. Pertama, membedah rumah. Kedua, menyekolahkan Reno yang seharusnya sudah mengenyam pendidikan. Ketiga, merehabilitasi Mimin dan Jiyah agar kembali sehat,” katanya.

Aparatur kampung, kata Gunu Asmoro, mulai bergerak membantu karena sempat terjadi miskomunikasi.

“Kondisi ini sudah 10 tahunan. Tapi, baru bergerak membantu. Ada miskomunikasi sebelumnya. Hati kami bergerak berkat bimbingan linmas dan bhabinkamtibmas sehingga mengajukan bedah rumah. Kami ikut prihatin melihat kondisi ini. Kita akan bergotong royong untuk bedah rumah,” ucapnya.

Sementara Bhabinkamtibmas Kotagajah Timur Brigpol Andri Puji Hartanto mengaku tergerak hatinya membantu keluarga Mimin karena merasa prihatin.

“Saya prihatin melihat kondisi keluarga Pak Mimin. Apalagi Reno sempat tidak boleh sekolah. Katanya boleh sekolah oleh orangtuanya kalau rumah sudah bagus,” katanya.

Pak Mimin, kata Puji, sebelumnya bekerja serabutan.

“Kerja ikut orang. Kadang upahan manjat kelapa dan membersihkan kebun. Pak Mimin ikut gangguan jiwa karena mungkin melihat kondisi istrinya yang buang air besar di dalam rumah dan sering marah-marah tak menentu. Bahkan dilarang tidur di dalam rumah,” ungkapnya.(*)

LEAVE A REPLY