JURNALIS LAMTENG GALANG DANA UNTUK PENDERITA JANTUNG BOCOR

0
633

Sejumlah jurnalis dari beberapa media cetak dan elektronik yang bertugas di Kabupaten Lampung Tengah, menggelar aksi penggalangan dana peduli ”Afriqka Zumaroh” (1) pasien pengidap penyakit jantung bocor.

Penggalangan dana itu dilakukan selama dua hari Minggu-Senin (27-28-2015). Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan  untuk mambantu biaya operasi Afriqka Zumaroh (1).

Aksi penggalangan dana dilakukan disatu titik, dipusatkan di jalan lintas Sumatera, tepatnya di depan Bandarjaya Plza Lamteng.

”Aksi galang dana ini kami lakukan untuk membantu biaya operasi Afriqa Zumaroh (1) pasien yang mengidap penyakit jantung bocor,”kata Hery, Koordinator aksi penggalangan dana.

Jurnalis dari media cetak Radar Lamteng ini menuturkan, aksi penggalangan dana ini merupakan bentuk solidaritas sosial antar sesama.

Ia menambahkan, selain melakukan aksi turun kejalan, pihaknya juga sudah membuka dompet amal yang disediakan oleh Radar Lamteng.

”Kami berharap, para dermawan yang ada di Lamteng bisa sedikit menyisihkan hartanya untuk membantu biaya pengobatan Afriqa Zumaroh,”tukasnya seraya menerangkan saat ini total dana yang terkumpul sekitar Rp 1,6 juta.‎

Sekadar di ketahui Afriqka Zumaroh, bayi  berusia 1 tahun yang mengalami jantung bocor membutuhkan biays untuk melakukan operasi. Putri bungsu  pasangan Lamirin dan Sukini, warga  RT 06, Lingkungan II, Kelurahan Yukumjaya, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah,  ini diketahui mengalami jantung bocor sejak berusia tiga bulan.

Lamirin mengatakan, kondisi fisik dan kelincahan putrinya tak lagi seperti layaknya anak seusianya. “Afriqka lahir RSI Asy-Syifaa Yukumjaya. Ketahuan mengalami jantung bocor sejak usia tiga bulan. Ketika itu Afriqka mengalami sesak napas dan badanya panas. Saat dibawa ke puskesmas didiagnosis mengalami gizi buruk (gizbur),” katanya.

Melihat kondisi tak kunjung membaik, kata bapak sepuluh anak ini, dirinya membawa ke klinik yang berada di Kampung Panggungan, Kecamatan Gunungsugih. ”Di klinik , anak saya dirawat selama 15 hari dan divonis TBC . Satu bulan setengah kemudian, anak saya kembali menjalani perawatan. Namun, kali ini dirawat di RSI Asy-Syifa Yukumjaya. Cuma dua hari di sana, dirujuk ke RSUD dr. Hi. Abdul Moeloek, Bandarlampung,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan dokter di RSUDAM, kata Lamirin, diketahui bahwa anak bungsunya menderita paru-paru dan jantung bocor. ”Alhamdulillah, waktu itu sempat sembuh. Namun, pada 12 Mei 2015, anak saya dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita, Jakarta” katanya.

Melihat kondisinya semakin membaik, kata Lamirin, dirinya bersama istrinya mencoba untuk membawa pulang. “Ternyata hal itu  tak seperti yang dibayangkan. Empat bulan kemudian, tepatnya pada September 2015, kondisinya makin memburuk. Saya dan istri sangat khawatir melihat kondisinya hari ke hari nggak stabil. Kami mencoba kembali membawanya ke RSUDAM. Sekarang anak saya beserta istri sedang di RS Harapan Kita menunggu operasi yang dijadwalkan pada 31 Desember 2015,” ujarnya.

Meskipun program pemerintah BPJS Kesehatan sudah dimanfaatkan, kata pria yang berprofesi sebagai buruh ini, beberapa obat resep dokter ditebus harus menggunakan uang. ”Saya sudah pernah meminta bantuan dan petunjuk ke Dinas Kesehatan. Tapi dicuekin. Saya bingung. Kemana lagi saya meminta bantuan? Saya mengharapkan uluran tangan dermawan untuk meringankan beban kami,” harapnya.

LEAVE A REPLY