Pipa Line Transfer Minyak Mentah Pertamina Kembali Bocor di Pali, Sehari Bisa Tiga Kali

0
146
Pencemaran Lingkungan, Pipa Minyal di Pali Sumsel, Kebocoran Minyak
Pipa minyak milik Pertamina di desa Prambatan yang bocor

RUBRIK, PALI – Dalam waktu satu hari, pipa transfer minyak mentah milik PT Pertamina EF Asaet 2 Adera Fild mengalmi tiga kali kebocoran akibat korosi.

Ini terjadi di Desa Prambatan Kecamatan Babab Kabupaten penukal Abab Lematang Ilir (Pali).

Hampir semua pipa line transfer produksi milik PT Pertamina EP Aset 2 Adera Field yang melintasi kecamatan Abab di wilayah Kabupaten Pali kondisinya kini sudah sangat memperhatinkan. Pasalnya selain tua dan berkarat, pipa line ini kerap kali mengalami kebocoran.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat,.dalam waktu satu bulan saja pipa line transfer produksi ini sudah lima kali mengalami kebocoran yang diduga disebabkan oleh korosi sehingga tidak mampu menahan minyak bertekanan tinggi yang dikirim dari stasiun pompa.

Akibat dari kebocoran tersebut, beberapa kebun karet milik warga terkena ceceran minyak mentah sehingga produksi getah karet warga menurun, bahkan limbah minyak mentah berwarna hitam pekat itu sebagian mengaliri anak sungai dan air payau yang mengganggu ekosistem flora dan fauna hayati.

“Di tengah kebun karet saya saja sudah dua kali mengalami kebocoran, pekan lalu satu kali tapi hanya keluar air asin saja, tidak lama berselang kembali lagi kebocoran, tapi kali ini yang keluar dari pipa itu minyak mentah dan merendam puluhan batang pohon karet, sudah dipastikan produksi karet ini menurun,” tutur Irsan (60) salah satu warga Desa Perambatan, Senin (30/4/2018).

Selain itu, menurutnya kejadian ini bukan satu tempat, namun melainkan ada lima titik yang mengalami kebocoran, bahkan dalam waktu sehari ada tiga kejadian yang serupa.

Pertama di simpang Abab 40, kedua Abab 5, dan Abab 7, sedangkan payau lata dan Dusun Tue kejadiannya bulan lalu, tetapi sampai detik ini limbah tersebut masih mengapung di atas permukaan air.

“Kalau yang ada di kebun kita sudah ada upaya pembersihan dari pihak PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field, begitu kejadian tim produksi langsung datang dan keesokan harinya dibersihkan, tapi kalau untuk di beberapa air payau itu, sampai kini limbah minyak mentah tersebut masih tergenang di atas permukaan air,” katanya.

Terkait masalah itu, Wakil Ketua Lembaga Gerakan Peduli Lingkungan (LGPL) Nasir mengatakan, pihaknya tetap menyoroti dan proaktif dan mengikuti kejadian-kejadian seperti ini.

“Kita tetap minta pertanggungjawaban dari pihak prusahaan PT Pertamina. Perusahan harus bertanggung jawab. Masalah limbah ini harus diselesaikan secara tepat, penangulangan secara benar. Dan apa yang harus mesti kita angkat kita angkat jadi dampak kedepanya kita harapkan tidak terjadi dampak negatif,” harapnya.

Selain itu, ia menyayangkan pihak perusahaan pelat merah tersebut yang seolah-olah tidak mempedulikan lingkungan sekitar.

“Kalau begini kejadiannya saya rasa pihak Pertamina sudah melalaikan tanggung jawabnya, apalagi sampai berbulan-bulan minyak itu masih berada di atas air. Kemarin memang ada informasi bahwa pihak perusahaan berupaya membersihkan limbah minyak mentah itu dari air, tapi kami menilai tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP),” imbuh Nasir.

Menurut Nasir, pihak perusahaan membersihkan limbah minyak mentah tersebut hanya menggunakan tenaga manual dan hanya beberapa personil dari tim produksi, sedangkan minyak yang tercecer mencemari lahan payau diperkirakan mencapai hampir satu hektare dan puluhan barel minyak mentah yang menyebar.

“Alhasil sampai sekarang limbah minyak mentah tersebut masih tergenang di atas permukaan air dan pihak perusahaan membersihkan limbah itu sepertinya sesuka hati, kadang ada orang yang membersihkan kadang tidak sama sekali, kami selaku tim LGPL dalam waktu dekat ini akan melayangkan surat ke Dinas Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Terpisah, Ameriudin, Kepala Desa Perambatan, Kecamatan Abab, mengaku selama ini masyarakatnya sudah sangat diresahkan dengan seringnya pipa line PT Pertamina pecah.

Tapi laporan kejadian itu kepada pihak perusahaan jarang sekali ditindaklanjuti, sehingga pembersihanya berlarut larut.

Sementara Yuhairudin, kepala Dinas lingkungan hidup Kabupaten Pali mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengundang pihak PT Pertamina untuk mempertanyakan sejauh mana pihak Pertamina dalam menangani limbah.

“Kita ingin tahu mekanisme pembersihanya memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) atau tidak,” pungkasnya.(Purba)

LEAVE A REPLY