Pegiat Seni dan Budaya Dapat Bantuan Alat Musik

0
161

RIBRIK,LAMTENG –  Tiga Puluh Tujuh  pegiat seni dan budaya di Lamteng  menerima bantuan alat kesenian dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah yang diserahkan di Lapangan Tenis Indoor, Kecamatan Gunungsugih, Rabu (26/12/18).

Penyerahan alat kesenian dibarengi juga dengan pemberian  sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sastra lisan Lampung dari Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud).

Dalam penyampaian nya Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Tengah Syarif Kusen mengatakan penyerahan alat kesenian ini merupakan bentuk perhatian pemerintah daerah dalam melestarikan seni dan budaya di Indonesia.
“Ini bentuk perhatian kita dalam rangka melestarikan seni dan budaya di Indonesia, khususnya Lampung Tengah. Ada 37 penggiat seni dan budaya di Lampung Tengah yang aktif yang kita berikan bantuan. Baik untuk seni gitar klasik, jaranan, reog, Karawitan,Rudat, kesenian padang, kesenian bali,” terang nya.

Selain itu, Syarief Kusen menjelaskan terkait perolehan penghargaan WBTB dari Kemendikbud. “Lampung Tengah juga terpilih meraih WBTB dari Kemedikbud. Melalui sastra Lampung lisan ( Dadi ) dari Kecamatan Pubian. Pelestarian seni dan budaya harus terus dilakukan,” imbuhnya.

Sedangkan Kabid Kebudayaaan Arie Mawardi Effendi mewakili Kadisdikbud Lampung Sulpakar yang menyerahkan sertifikat WBTB menyatakan semoga penghargaan WBTB ini jadi titik awal seni dan kebudayaan di Lampung Tengah. “Sastra lisan Lampung (Dadi) telah mendapat WBTB. Semoga ini jadi titik awal seni dan kebudayaaan di Lampung Tengah. Jangan sampai kesenian dan kebudayaan di klaim bangsa lain,” katanya.

Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto berharap keragaman seni dan budaya di Indonesia umumnya dan Lampung Tengah khususnya bisa menyatukan masyarakat
“Sesuai semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman suku, seni, dan budaya harus menyatukan. Jangan menimbulkan perpecahan atau konflik SARA,” ucap Bupati

Seni dan budaya, kata Loekman, jangan hanya jadi kegiatan seremonial atau pentas tanpa makna. “Kesenian dan kebudayaan harus dilestarikan. Jangan hanya seremonial atau pentas tanpa makna. Harus terus dilestarikan supaya berkembang. Jangan malah diklaim milik negara lain. Pertahankan dan umumkan kepada dunia. Sudah banyak seni dan budaya kita diadopsi bangsa lain. Generasi muda juga jangan malu melestarikan budaya Indonesia,” ujarnya

Pemberian bantuan alat kesenian, kata Loekman, tidak ada yang diistimewakan atau dianakturikan. “Nggak ada anak emas atau dianak tirikan, meskipun Bupatinya orang Jawa. Kita semua warga Lampung Tengah. Saya tak mau dengar selisih antar suku. Mari tingkatkan mutu kesenian,” tegas Loekman.

Pada 2019, kata Loekman, dirinya meminta di Gedung Sesat Agung Nuwo Balak ada semua alat kesenian. “Saya sudah lama ingin ada alat kesenian yang ditaruh di Gedung Sesat Agung. Pada 2019 harus diadakan. Nanti semua kesenian dan kebudayaan bisa tampil di Gedung Sesat Agung. Jika sudah ada di data dan diinventarisasi. Sehingga tiap kesenian bisa tampil bergilir,” pungkasnya.(*)

LEAVE A REPLY