Masuk Kategori Rawan Stunting, Pemkab Lamteng Gelar Diskusi Bersama Kemenkes dan Ahli Gizi

0
557
Lamteng, Pemkab Lampung Tengah, Portal Berita Lampung Tengah
Plt Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto membuka Seminar Gizi

RUBRIK, LAMPUNG TENGAH – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto membuka diskusi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dan pentingnya pemenuhan gizi dalam 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting di Spark Convention Hotel Bandarjaya, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, Selasa (27/3/2018).

Diskusi tersebut dihadiri beberapa narasumber di antaranya Galopong Sianturi dari Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Arief Rohman dari Direktorat Jaminam Sosial keluarga Kementerian Sosial serta dr Tutik Ernawati ahli gizi SPGK Universitas Lampung.

Dalam sambutannya, Loekman menekankan pentingnya asupan gizi pada ibu hamil untuk menghindari bayi stunting dan gizi buruk.

Pemenuhan gizi pada anak usia dini bahkan sejak dalam kandungan atau 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dianggap sangat perlu dilakukan dan harus dimulai sejak fase kehamilan yakni selama 270 hari hingga anak berusia dua tahun atau 730 hari.

“Seribu hari pertama kehidupan adalah saat yang terpenting dalam hidup seseorang karena itu hal ini harus diperhatikan benar-benar. Makanan selama masa kehamilan dapat mempengaruhi fungsi memori. Tidak hanya itu, bahkan pada konsentrasi, pengambilan keputusan, intelektual, mood dan emosi seorang anak di kemudian hari. Untuk itu, kebutuhan gizi bayi sangat penting untuk diperhatikan baik sejak dalam kandungan,” terang Loekman.

Menurut Plt Bupati, menangani masalah kesehatan memang kompleks seperti fasilitas Kesehatan, permasalahan kesehatan dan kondisi wilayah.

‘’Pemerintah daerah akan terus melakukan upaya upaya dengan perbaikan gizi bagi ibu-ibu hamil dengan memperbanyak program-program di posyandu di kampung sehingga kita bisa memantau permasalahan stunting di Lampung Tengah ini,” ungkapnya.

Loekman pun sempat kaget bahwa Lampung Tengah termasuk kategori stunting di beberapa kampungnya.

Menurut data dari pusat, pada tahun 2013 lalu sebanyak 52,7% kasus stunting di Lampung Tengah. Namun di tahun ini angka sudah turun dratis. Pada tahun 2016 menjadi 20,26% kemudian tahun 2017 menjadi 11,74%.

‘’Saya sempat terkejut jika menurut  data  riset tahun 2013, di Lampung Tengah ada sekitar 52,7 persen kasus stunting. Ini berarti hampir separuh pendudukan Lampung Tengah dan saya belum menemukan kasus orang kerdil atau cebol di Lampung Tengah ini,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmes)  Dinas Kesehatan Lampung Tengah Ratoyo, ada 10 kampung di Lamteng yang mendapatkan perhatian karena kasus stunting masih tinggi.

‘’Data yang kita dapat kasus stunting di Lampung Tengah ada di delapan kecamatan dengan 10 kampung,” bebernya.

Ratoyo memaparkan, Kecamatan Gunung Sugih di Kampung Buyut Udik, Kecamatan Bandar Mataram di Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Bumi Ratu Nuban di Kampung Tulung Kakan, Kecamatan Anak Ratu Aji di  Kampung Bandar Putih Tua, dan Kampung Gedung Ratu di Kecamatan Pubian, Kampung Rio Priangan Tanjung Rejo di Kecamatan Bandar Surabaya kampung Cabang.

Selanjutnya di Kecamatan Terusan  Nunyai di Kampung  Gunung Batin Udik, Kecamatan Bandar Mataram di Kampung Mataram Udik.

Sementara itu Plt Kepala Dinas  Kesehatan Khairul Azman mengataka bahwa pihaknya melalui puskesmas dan posyandu dan bidan-bidan desa telah memberikan makanan tambahan bergizi untuk ibu-ibu hamil dan balita.

‘’Inilah upaya kita untuk menekan stunting di Lampung Tengah, terutama di wilayah yang direkomendasikan dari pusat di 10 kampung yang menjadi perhatian,” ungkapnya.

Sementara Galopong Sianturi  mengatakan, Kabupaten Lampung Tengah menjadi perhatian pusat dari 100 kabupaten di Indonesia.

Hal ini dikarenakan kasus stunting di Lampung Tengah masuk dalam kategori tinggi.

Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan program pemerintah terkait gizi akan lebih maksimal dikarenakan stunting salah satunya penyebabnya makanan yang asupan gizinya kurang sekali.

“Dengan asupan gizi yang kurang berdampak pada indikator tinggi badan dan berat badan. Sedangkan dilihat dari  masalah keturunan itu hanya 10%, namun yang utama faktor lingkungan ini sangat perlu diperhatikan,” pungkasnya.(Adv)

LEAVE A REPLY