Ini Terobosan Kalapas Baru Gunungsugih untuk Hadapi Overkapasitas Lapas di Lamteng

0
1016

RUBRIK, LAMPUNG TENGAH – Dalam meningkatkan aktivitas maksimal warga binaan yang overcrowded, Lapas Kelas III Gunungsugih, Lampung Tengah, meminta bantuan pemerintah daerah. Terutama dalam pemenuhan berbagai fasilitas yang belum tersedia.

Kalapas Kelas III Gunungsugih Syarpani menyatakan, program pembinaan narapidana harus didukung tiga pilar, yakni petugas, masyarakat, dan pemerintah daerah.

“Dalam pembinaan napi ini, kita tekankan bantuan pemerintah daerah. Terutama terkait fasilitas di lapas yang masih minim. Di sini belum ada ruang paket BC, PKBM Mandiri sekolah kejar paket.  Kemudian sanggar musik dan kegiatan lain,” katanya setelah sertijab dengan mantan Kalapas Kelas III Gunungsugih Dawa’i, Jumat (13/10/2017).

Overcrowded lapas dengan kapasitas 300 orang disii 573, kata Syarpani, jika tidak diiringi kegiatan maksimal warga binaan akan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban.

“Jadi saya akan berupaya agara warga binan bisa beribadah dan beraktivitas maksimal. Dengan aktivitas maksimal dapat menghindari pemikiran melarikan diri. Jadi napi ikhlas menjalani pidana,” ujarnya.

Terkait belum adanya fasilitas bilik asmara bagi warga binaan yang telah beristri, Syarpani menyatakan belum ada aturan yang melindungi hal itu.

“Di Indonesia belum diterapkan. Belum ada aturan yang melindungi itu. Dikhawatirkan juga wanita bukan muhrim bebas masuk ke lapas. Nanti jadi ajang mencarikan perempuan. Dampaknya juga bisa menularkan penyakit seksual. Kalau di negara tertentu, memang ada yang menerapkan conjugal visit (kunjungan napi untuk aktivitas seksual),” ungkapnya.

Syarpani melanjutkan, hal itu merupakan bagian dampak pemidanaan seperti ditegaskan Gresham M Sykes. “Setiap napi akan mengalami lima lost atau lima kehilangan. Yakni Lost of Liberty, Lost of security, Lost of Autority, Lost of sexual, dan Lost of Good Service,” ungkapnya.

Masalah peredaran narkoba di lapas, Syarpani berharap peran serta masyarakat ikut peduli terhadap pembinaan napi.

“Sekarang ini petugas keamanan kita minim. Kita juga masih melakukan pemeriksaan manual. Jadi kalau mau sukses pembinaan napi, masyarakat juga harus peduli. Kita usahakan maksimal menghindari peredaran narkoba di lapas. Zero tolerence (nggak ada toleransi). Petugas yang terlibat akan dipidanakan,” tegasnya.

Sedangkan Kadivas Kanwil Kemenkumham Lampung Edi Kurniadi mengatakan, Lapas Kelas III Gunungsugih akan mendapat tambahan 33 petugas SDM.

“Sekarang memang petugas di lapas ini jauh dari mencukup. Insya Allah ada penambahan 33 orang SDM. Lapas ini tempat introspeksi diri, bagian perjalanan hidup. Saya yakin masih ada yang peduli dengan warga binaan,” katanya.

Terkait masalah narkoba yang krusial sering terjadi di lapas, Edi menyatakan tidak akan melindungi oknum yang terlibat.

“Oknum petugas yang terlibat narkoba, tidak ampun. Kalau tak sanggup, silakan mengundurkan diri. Kita tak akan melindung. Selama saya di sini sudah ada tiga petugas yang terlibat narkoba,” ungkapnya.

Sementara mantan Kalapas Gunungsugih Dawa’i mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait yang telah bekerja sama selama ini dalam mendukung pembinaan napi.

“Terima kasih atas kerja sama semua jajaran selama ini. Tugas tak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan semua pihak. Semoga dengan Kalapas yang baru, Lapas Kelas III Gunungsugih jauh lebih baik,” ungkapnya.(*)

LEAVE A REPLY