PPN 10 Persen Bisa Bikin Peternak Sapi Gulung Tikar

0
665

RUBRIK, LAMPUNG TIMUR – Peraturan pemerintah yang membebankan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen untuk daging sapi dianggap memberatkan para peternak sapi. Para peternak ini bahkan mengaku bisa gulung tikar lantaran biaya modal yang dikeluarkan membengkak. PPN tersebut sudah diberlakukan sejak Januari 2016 ini.

Seperti yang dikeluhkan oleh Santoso (40), warga Desa Pulosari, Kecamatan Pasirsakti, Lampung Timur yang memelihara 35 ekor sapi siap jual. Santoso yang merupakan pengusaha penggemukan sapi mengaku terbebani dengan PPN 10 persen tersebut. “Sekarang setiap beli pakan dan obat obatan dikenakan PPN 10 persen,” kata Santoso.

Padahal, kata Santoso, peternak sapi membutuhkan modal besar dan untung yang tidak terlalu besar. Santoso misalnya yang membeli sapi dari Jawa Timur. Sapi-sapi tersebut lalu dipelihara hingga siap jual keluar Lampung, seperti Jambi dan Pekanbaru. Harga jualnya Rp 43 ribu per kilogram dalam kondisi sapi hidup.

Harga sebesar itu, Santoso mengaku mendapat keuntungan kecil, sebab biaya pemeliharaannya juga membutuhkan dana besar. Seperti pembelian pakan Rp 3 ribu per kilogram. Jenis pakan yang biasa digunakan yaitu pakan yang sudah difermentasi dengan bahan baku kulit singkong, onggok (limbah singkong), belum biaya transport pengambilan pakan, serta biaya perawatan.

“Saya tidak mungkin merawat sendiri 35 ekor sapi itu. Tentu saya menyewa tenaga orang dengan memberi imbalan uang. Ini ditambah beban oleh pemerintah dengan PPN 10 persen, lama-lama kami bisa beralih usaha yang lain,” kata Santoso.

Sapi yang dipelihara Santoso merupakan sapi jenis potong yang dijadikan sapi pedaging. Ayah dua anak itu membeli sapi dari Jawa Timur dengan mencari sapi yang kondisinya kurus, lalu digemukan sendiri. Santoso membutuhkan waktu empat bulan hingga sapi-sapi tersebut siap jual.(*)

LEAVE A REPLY