MUI Khawatir Tudingan Amien Rais Terhadap Kapolri Bisa Menuai Kegaduhan Politik

0
507
Portal Online Lampung, Berita Amin Rais,Media Indonesia, Rubrik berita
Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) usai di Periksa di Derektorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu 10 Oktober 2018.

RUBRIK, JAKARTA – Belum lama ini, Amien Rais meminta agar jabatan Kapolri Jenderal Tito Karniavan segera dilepas karena kasus suap yang menyeret nama orang nomor satu di Korps Bhayangkara tersebut.

Pernyataan Amien Rais tersebut juga menyita perhatian Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Saadi. Ia mengatakan bahwa pernyataan Amien Rais tersebut bisa memicu kegaduhan politik. Selain itu, pernyataan Amien yang meminta dilepasnya jabatan Kapolri Tito bisa menjadi bentuk pendidikan politik yang sangat buruk bagi masyarakat. Ia beralasan bahwa masyarakat akan meniru apa yang dilakukan oleh para tokoh idolanya.
Zainut khawatir jika Amien Rais tidak bisa membuktikan tuduhannya, Tito bisa saja menuntut balik Amien atas dugaan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan perbuatan menyerang kehormatan.

“Menuntut seorang pejabat negara agar dicopot dari jabatannya dengan alasan tidak jujur, korupsi dan tidak layak tanpa didukung oleh alat bukti yang cukup, bukan saja akan menimbulkan kegaduhan, syak wasangka dan suasana saling curiga,” kata Zainut di Jakarta, Jumat.

“Jika hal itu terjadi maka bisa dibayangkan betapa gaduhnya situasi dan kondisi kehidupan bangsa kita,” kata dia.

Dia mengimbau tokoh dan elit politik untuk membangun budaya politik dan demokrasi yang santun dilandasi nilai-nilai luhur, akhlakul karimah dan berkeadaban. Penting juga untuk berperilaku proporsional dan tidak berlebihan baik dalam menyampaikan pendapat maupun kritik sehingga tidak menimbulkan polemik dan kegaduhan.
Menurut Zainut, kebebasan berekspresi dan berpendapat sebagaimana menyampaikan kritik adalah hak asasi setiap orang yang dilindungi oleh konstitusi. Namun dalam pelaksanaannya harus tetap mengindahkan nilai-nilai moral, etika dan agama.

Mengutip dari laman Antaranews.com, Ia menambahkan, walaupun terjadi perbedaan yang besar diruang publik maka harus tetap dalam lingkup perbedaan yang sehat,konstruktif dan argumentatif.
Menyampaikan kritik dengan narasi yang baik, jujur dan elegan bukan dengan narasi yang sinis, sarkastik dan penuh kebencian sehingga tidak ada pihak yang merasa direndahkan dan dilecehkan.

Menurut Zainut, saat ini Indonesia dalam pelaksanaan hajatan nasional bangsa Indonesia yaitu Pemilu baik Pileg maupun Pilpres. Pesta demokrasi itu seharusnya berjalan dengan damai, rukun dan penuh persaudaraan jangan berubah menjadi panas, penuh dengan fitnah, hoaks dan ujaran kebencian.
Hal itu bisa saja menimbulkan friksi dan perpecahan bangsa yang semakin tajam. Maka dari itu ia meminta agar semua pihak bisa menahan diri dan lebih mendahulukan kepentingan keselamatan bangsa dibandingkan hanya mengejar kepentingan politik kekuasaan.

“Semoga masyarakat Indonesia diselamatkan dari bahaya perpecahan dan menjadi bangsa yang semakin arif dan dewasa dalam menyikapi perbedaan,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY