Kebudayaan Masih Sering Dianggap Dekorasi dan Kerja Sambilan

0
1443

RUBRIK, METRO – Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid  mengatakan kebudayaan masih seringkali dilihat semacam dekorasi. Padahal kebudayaan harus berada di hulunya, bukan dekorasi. Salah satu yang menonjol dari visi kebudayaan adalah keinginan untuk membentuk dan memperkuat jati diri, karakter.Seminar Revilitasi Budaya Lampung Metro

Hal itu disampaikan pada seminar revitalisasi budaya Lampung yang digelar di Gedung Sesat Nuwo Budayo Metro, Minggu (1/5/2016).

Seminar yang mengambil tema “Negara, Kekuasaan& Budaya Lokal yang digelar sehari itu, mendapat animo, di antaranya, hadir sejumlah tokoh adat, masiswa seni, pencinta budaya, dan seniman.

Dirjen meminta, dinas di daerah sebagai ujung tombak memiliki komitmen untuk meningkatkan keterlibatan publik. Tujuannya untuk membangun ekosistem. Hal praktis misalnya, dukungan terhadap kesenian. Ada di banyak tempat seniman yang hidupnya masih dalam belas kasih. Karenanya, menjadi harapan untuk memiliki komitmen membangkitkan kebudayaan. Ia menambahkan masih ada dikotomi pembangunan fisik dengan pembangunan mental.

Sementara Budayawan Lampung yang juga kritikus sastra Ahmad Yulden Erwin menuturkan, kebudayaan bukan kerja sambilan atau karya budaya atau artefak. Namun, ia mengatakan, yang penting bagaimana kita membangun cara berfikir atau gagasan, pikiran atau ide yang akan membangun artefak. Menurut Erwin, kebudayaan tanpa nilai tidak akan ada maknanya.

Saat ini kita kehilangan aspek nilai tersebut. Erwin menambahkan tanpa inovasi maka tidak akan ada kreativitas. Kita abaikan seni tradisional, seni kerajinan kita. Landasan spritual, fisolofis dan estetika.

“Kita kehilangan itu, makanya kita tidak dilirik dunia,” tuturnya.

Karenanya, harus ada riset yang intensif terhadap karya seni tradisional, jika ingin berkembang. “Apapun yang Anda buat akan kehilangan nilai dan makna estetika tanpa latar epistemik dan filosofis, maka tidak akan bisa dilirik dunia,” tambahnya.

Dikatakan penyair yang juga pengamat budaya yang akrab dipanggil Erwin, revitalisasi budaya dimulai dari kebangkitan aspek cara berpikir.

“Ini harus ditemukan kembali agar kita mampu mengembalikan kembali agar bisa bergema secara nasional,” ujarnya.

Ia mencontohkan seni kerajinan di Jepang. Seni keramik Jepang itu pernah hilang selama dua abad. Jepang akhirnya kehilangan seni kebudayaan. Setelah menggali aspek filosifinya, kini seni keramik Jepang menjadi booming secara internasional. Itu menjadi terkenal setelah munculnya seorang pelopor yang datang dari Inggris yang melakukan riset di Jepang.

Sementara itu, Asisten I Kota Metro, Masnuni mengapresiasi digelarnya seminar Revitalisasi Budaya Lampung, yang dinilainya penting. Pasalnya, selain membangun karakter, juga untuk memotivasi insan seni budaya dan terus mengembangkan kreativitas. 

Masnuni yang mewakili walikota mengatakan, seni budaya merupakan sarana perekat menjalin silaturahmi. “Budaya menjadi potensi pembangunan yang harus menjadi perhatian khusus untuk dikembangkan,”ujarnya.

(rubrikmedia)

LEAVE A REPLY