Selama Dua Hari, 34 Peserta Lomba TTG Presentasikan dan Demontrasi Teknologi Terapan Mereka

0
390
Balitbangda Lamteng

RUBRIK, LAMPUNG TENGAH – Satu per satu peserta lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2017 telah mempresentasikan teknologi rancangannya di hadapan para dewan juri.

Presentasi 34 peserta bertempat di salah satu ruangan kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Lampung Tengah (Balitbangda) di Kotagajah, Selasa (11/7/2017).

Enam dewan juri menyimak presentasi para peserta, di antaranya DR Ansori Djausal, Kurnia Muludi, Marselina S, Agus M Septiana, DR Aton Yulianto, I Wayan Ari, yang semuanya merupakan sekretaris Dewan Riset Daerah (DRD) Lampung Tengah.

Menurut Agus M Septian, yang juga kepala bidang inovasi dan teknologi Balitbangda, presentasi diadakan dalam waktu dua hari. Para peserta diharuskan mendemontrasikan alat atau teknologi buatannya.

”Untuk hari ini ada delapan peserta kategori umum sedangkan untuk besok ada dua puluh enam peserta dari kategori umum dan sekolah/pelajar. Setiap peserta wajib mendemontrasikan alat atau teknologi temuannya di hadapan para dewan juri agar dapat dinilai terkait alat, cara kerja alatnya, dan dampak bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat sekitar,” jelas Agus.

Sementara itu, Ketua dewan juri DR Ansori Djausal menuturkan ada lima poin yang digunakan sebagai pedoman penilaian. Yaitu manfaat ekonomi, secara sosial tidak bertentangan dengan masyarakat, teknisnya, dan tidak merusak lingkungan, serta orisinilitas.

Rangga Adiyansah, salah satu peserta lomba TTG ini mengatakan, ia bersama kelompoknya membuat teknologi pengusir hama tikus dan hama serangga  yang ramah lingkungan. Ia berharap alat temuannya dapat dikembangkan lagi.

”Alat kami ini berguna untuk mengusir tikus di sawah menggunakan suara ultrasonik sonar dan menjebak serangga seperti walang sangit dan serangga lain yang sifatnya tidak baik dan dapat menurunkan produktivitas pertanian. Alat kami ini ramah lingkungan karena menggunakan sel surya dan dilengkapi dengan sensor cahaya sehingga hidup pada malam hari saja sesuai dengan cara kerja tikus dan walang sangit yang keluar pada malam hari,” jelasnya.

Mahasiswa Politeknik Sriwijaya jurusan teknik elektro ini mengatakan, setelah ikut lomba ini jika ada yang melirik akan dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam agar alat ini benar-benar dapat digunakan dan membantu masyarakat.(ddy)

LEAVE A REPLY