Ratusan Ojol di Surabaya Nekat Makamkan Rekannya yang Berstatus PDP Tanpa Protokol Covid-19

0
1119
ratusan ojol Surabaya protes karena pemakaman rekannya terhambat, ratusan ojol memakamkan rekannya berstatus PDP tanpa menerapkan protokol Covid-19, Ratusan ojol tak terima rekannya dinyatakan berstatus PDP, RS dr Soetomo, Surabaya
Ratusan ojol mendatangi RS dr Soetomo lantaran proses pemakaman DAW yang juga pengemudi ojol terhambat lantaran dinyatakan sebagai PDP virus Corona / sumber : news.detik.com

RUBRIK, SURABAYA – Sekumpulan pengemudi oejek online nekat ikut serta dalam memakamkan salah satu rekan sesama pengemudi ojek online yang dinyatakn sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) terkait pandemi virus Corona.

Pengemudi ojek online yang jumlah nya ratusan tersebut memakamkan seorang perempuan sesama rekan ojol yang berinisial DAW (39). DAW sendiri diketahui meninggal dalam perawatan  setelah mengalami kecelakaan saat mengantar pesanan.

Menurut keterangan rekan almarhumah yaitu Suroso mengatakan bahwa sebelumnya DAW dijambret saat sedanag mengantar pesanan makanan di kawasan Jalan Darmo Harapan, Sukomanunggal, Surabaya, Kamis (4/6) hingga ahirnya terjadi kecelakaan.

“Saat itu Mbak DAW mengantarkan makanan, dikiting (diikuti) orang. Di perempatan Darmo Harapan kesamper itu jatuh dan luka-luka,” ujar Suroso, Senin (8/6)

Mengutip CNNIndonesia.com, Suroso menambahkan bahwa setelah mengalami kecelakaan, DAW tidak dadarkan diri sampai ahirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tak lama setelah itu, DAW pun dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Kemudian setelah dirawat kurang lebih selama empat hari, kondisi DAW semakin memburuk. Ahirnya ia DAW dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (7/7/2020) pukul 14.30 WIB.

“Di WhatsApp dapat kabar meninggal 14.30 WIB,” tambah Suroso.

Namun, kata dia, pemakaman DAW terkendala. Hal ini dikarenakan RSUD dr Soetomo menetapkan DAW sebagai pasien dalam pengawasan (PDP). Berdasarkan protokol, PDP seharusnya dimakamkan secara khusus terkait Covid-19.

Mendengar hal tersebut ratusan ojol mendatangi RS dr Soetomo, mereka menuding diagnosis yang menyatakan DAW sebagai PDP Corona adalah salah. Alhasil, para ojol itu pun meminta DAW agar segera dikebumikan dengan tetap menggunakan tata cara pemakaman normal.

“Ternyata di RS ada masalah. Sampai jam 22.00 baru keluar dari kamar mayat,” kata Suroso.

Rekan-rekan DAW pun berusaha mencari jalan lain yaitu dengan membicarakan hal tersebut ke Anggota DPRD Surabaya, Baktiono. Baktiono pun memediasi pihak rumah sakit dan keluarga terkait pemakaman DAW.

Baktiono menjelaskan bahwa jenazah DAW sendiri sempat tidak diperbolehkan dibawa ke rumah duka karena statusnya sebagai PDP Covid-19. Hal itulah yang membuat para ojol yang merupakan teman korban mendatangi RSUD dr Soetomo.

“Mereka minta bukti kalau benar terinfeksi Covid-19 atau tidak. Mereka minta jenazah segera dibawa ke rumah duka, kalau RS tidak bisa membuktikan,” katanya.

Sementara itu pihak Humas RSUD dr Soetomo, dr Pesta Parulian memberikan keterangan bahwa meski DAW meninggal akibat kecelakaan, ia meruapakan salah satu pasien yang berstatus PDP. Maka dari itu untuk langkah antisipasi jenazahnya pun harus dimakamkan sesuai dengan prtokol Covid-19.

“Memang (seharusnya) protokol Covid-19 mas, kan PDP,” kata Pesta.

Saat ditanya, soal dugaan adanya kesalahan diagnosis yang dilakukan RSUD dr Soetomo, Pesta mengatakan hal itu tak perlu lagi diperdebatkan. Ia mengatakan perawatan jenazah pun telah dilakukan sesuai protokol.

“Saya kira tidak lagi diperdebatkan mas, keluarga menerima jenazah dengan baik dan jenazah sudah dirawat sesuai protokol,” katanya.

Perihal pemakaman jenazah yang dilakukan keluarga tanpa menerapkan protokol kesehatan, Pesta mengaku pihaknya tak tahu menahu. Ia mengatakan hal itu merupakan keputusan pihak keluarga dan bukan lagi wewenang pihaknya.

“Dari kami sudah sesuai prosedur,” kata Pesta.

Kini jenazah DAW pun telah dimakankan di belakang rumahnya di kawasan Dukuh Kupang Barat, tanpa menerapkan protokol Covid-19. (dw/us)

LEAVE A REPLY