Pemkab Lamteng dan Unila Jalin Kerjasama Pengembangan Singkong

0
192
Pemkab Lamteng, Media Lamteng, Portal Lamtwng
Bupati Lampung Tengah Loelman Djoyosoemarto

RUBRIK, LAMTIM – Universitas Lampung (Unila) dan pemerintah Lampung Tengah tandatangani Momerandum of Understanding (MoU) tentang pengembangan riset cassava.

Saat ini Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Tengah merupakan kabupaten yang memiliki berbagai produk pertanian unggulan. Salah satunya Cassava (ubi kayu/singkong) yang memiliki produksi 1.317.660 ton per tahun berdasarkan data 2017. Karena itu, singkong menjadi fokus sistem inovasi daerah (SIDa) yang produksinya terus ditingkatkan dan dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Lampung (Unila).

Menurut Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto, banyak produk pertanian unggulan di Lampung Tengah. “Produk pertanian unggulan di Lampung Tengah, yakni padi, jagung, kedelai, singkong, ketela, kacang tanah, dan kacang hijau. Khusus areal tanam singkong di Lamteng terbesar di Lampung seluas 53.805 hektare dari total luas areal tanam singkong di Lampung 208.662 hektare. Produksi singkong di Lamteng 1.317.660 ton per tahun dengan produktivitas sekitar 244,8 ton/hektare. Ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung 2018,” terang Loekman di hadapan civitas akademika dan para pejabat tinggi Unila di Gedung Rektorat Lt. 2, Unila, Selasa (19/2).

Potensi singkong yang besar ini, kata Loekman, menjadi faktor kekuatan pengembangan SIDa. “Singkong menjadi fokus SIDa Lamteng. Produktivitasnya terus ditingkatkan, dikembangkan, dan dipertahankan berkelanjutan. Produktivitas tapioka, terutama kandungan pati, juga terus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan produk luar negeri,” ujarnya.

Melalui kerja sama dengan Unila, lanjut Loekman, Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah ingin mengembangkan produktivitas produksi singkong. “Kita buka kesempatan seluas -luasnya kepada Unila mengembangkan produksi singkong. Singkong merupakan produk pertanian bernilai tinggi. Selain untuk pangan dan pakan, juga bisa untuk bahan farmasi, dan lahan kita cukup luas untuk ungkapnya.

Dalam sejarah dan potensi singkong di Lampung Tengah, kata Loekman, berdiri satu pabrik singkong di Kampung Buyut Ilir, Kecamatan Gunungsugih, pada 1970. “Pada 1970 hanya satu pabrik singkong berdiri. Kemudian pada 2017, produksi singkong di Lamteng 1.317.654 ton/tahun dengan luas tanam 54.162 hektare. Produksi singkong menimbulkan perputaran uang Rp1,317 triliun/tahun. Pada 2018, berdiri 58 perusahaan tapioka di Lamteng. Jika rata-rata produksi 100 ton/hari, potensi uang beredar bisa Rp6,9 triliun/tahun. Pada 2018 juga sudah berdiri 36 UKM. Bila rata-rata produk olahan 100 kg/hari, potensi uang beredar Rp4,3 miliar/tahun,” jelasnya

Dengan adanya kerja sama dengan Unila, kata Loekman, dirinya berharap Lamteng dapat menjadi kawasan yang mempunyai identitas khas terkait hasil produksi singkong. “Saya ingin adanya kerja sama ini, Lamteng punya ciri khas sebagai kawasan produksi singkong. Dengan dikembangkanya singkong menjadi produk unggulan bisa meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat,” harapnya.

Sedangkan Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. menyatakan Unila masuk dalam 15 universitas terbaik di Indonesia. “Unila masuk 15 universitas terbaik di Indonesia. Kita siap membantu Lampung Tengah dalam pengembangan teknologi cassava atau singkong sebagai fokus SIDa.Unila selaku perguruan tinggi yang mendapat mandat melaksanakan pengolahan riset mandiri tengah fokus mengembangkan riset dan inovasi cassava”ujar Rektor Unila ini

Hasriadi menegaskan, kerja sama riset pada bidang itu sangat strategis terhadap Provinsi Lampung khususnya Lampung Tengah sebagai penghasil cassava terbanyak di Indonesia.
‌“Selain melaksanakan riset pada berbagai bidang, Unila menetapkan diri sebagai pusat pengembangan riset cassava sekaligus berbagai permasalahan terkait, dan kedepan UNILA ini dapat menjadi Kamus Cassava sehingga nantinya semua daerah akan belajar Cassava di sini” pungkasnya.

LEAVE A REPLY