Jadi Korban Bullying Selama Dua Tahun Siswa SD Ini Alami Trauma

0
97
Portal Lampung
Ilustrasi perilaku perundungan atau bullying.Sumber : sinarharapan.net

RUBRIK,BANDUNG – Kembali terjadi perundungan atau lebih dikenal dengan bullying disertai dengan kekerasan fisik oleh siswa SDN 023 Pajagalan, Bandung.

Lewat sebuah videk yang beredar dan membuat geger para warganet pada 28 Agustus 2018 itu menimpa siswa berinisial B dan diketahui sudah terjadi selama 2 tahun.

Ema Marlina, ibu korban bully menjelaskan bahwa B bercerita kepada ayah B dan sudah konsultasi ke sekolah dan aksi bully terhadap B sudah berlangsung sejak kelas 4.

“Iya selama dua tahun memendam, si adiknya (B) ngomong kemarin ke ayahnya, terus ayahnya juga sudah ngomong ke sekolahnya ini (sudah terjadi) dari kelas 4,” kata Ema

Setelah mengikutu rapat bersama Komisi D DPRD Kota Bandung pada Rabu 5 September 2018, Ema menjelaskan bahwa ia baru mengetahui aksi bullying yang menimpa anaknya tersebut dari sebuah video di Instagram. Video teraebut memperlihatkan anaknya yang tidak hanya mendapat kekerasan fisik tapi juga kata- kata kasar dari siswa berinisial I.

Setelah melihat video teraebut Ema lantas mengingat sejumlah kejadian yang menurutnya janggal dan semakin menjadi jadi dari anaknya. Termasuk B sering menolak ketika dibawakan makanan sebagai bekal.

“Jam 8 (malam) lebih ada yang ngasih video, katanya kasihan anak saya udah keseringan diginiin kasihan, dan saya lihat saya langsung nangis terus. Sampai malem enggak bisa tidur ingin cepet ke sekolah,” ujarnya.

“Setelah disambung-sambung, saya tanya kenapa kalau dikasih bekal makanan nasi tidak mau. Katanya suka dimasukin kaus kaki,” ucap Ema

Kepada Ema, B mengaku perlakuan tersebut bahkan seringkali menghilangkan nafsu makannya. “Atuh da jijik, Bu, enek, ade juga punya perasaan,” ujar Ema saat menirukan perkataan anaknya.

Kemudian Ema mengingat seminggu sebelum video anaknya viral kala itu B pulang sekolah dengan kondisi luka lebam di dekat mata kiri hingga ke daerah pipi, serta bagian ujung hidungnya terlihat sedikit robek. B mengaku bahwa hal itu ulah teman sekelasnya berinisial I.

Ia pun kembali mengingat lagi bahwa empat hari setelah B pulang sekolah dengan terdapat sejumlah luka di wajah, B mengeluh giginya tanggal. Namun setelah Ema perhatikan serpihan gigi yang ditunjukkan B lebih mirip seperti patahan.

“Sebelumnya hari Kamis 23 Agustus, anak pulang dalam keadaan bengkak (mata dan pipi kiri) dan ini (sudut lobang hidung) sobek ini juga masih ada bekasnya saya tanya kenapa, awalnya ya enggak ngaku,” kata Ema

“Terus tanggal 27 (Agustus) bilang giginya copot sambil dikeluarin dari saku bajunya dan setelah saya lihat bukan copot tapi patah. Saya tanya kenapa bisa patah? Itu gigi geraham lho, gigi kuat. Anak saya cuma bilang mau mandi ah pusing sakit kepalanya,” katanya.

“Ade itu lihat video gimana, terus gigi patah sama siapa? Katanya sama dia (I). Kenapa baru bilang? Takut diancem kalau bilang sama ibu dipukulin lagi,” ujarnya.

Kemudian Ema kembali datang ke sekolah pada 3 September 2018 untuk memenuhi undangan penyuluhan dari Siti Muntamah. Saat itu ia dibuat geram saat ia mendengar teman B yang mengatakan bahwa sudah ada rencana intimidasi dari I ketika anaknya kembali masuk ke sekolah.

“Pas Senin saya ke sekolah terus ada temennya yang bilang katanya untung enggak sekolah, terus kenapa? Katanya hari Jumat sudah ngomong nanti hari Senin anak saya masuk sekolah kalau sudah masuk katanya ‘awas siah tong ditaranya pas asup ke,’ (awas jangan sampai ditanya saat masuk) jadi anak saya takut juga,” katanya.

Melansir Kumparan.com, B sudah menjadi korban bullying selama 2 tahun saat itu ia duduk di bangku kelas 4 sd hingga kini. B sendiri tidak berani bilang dan hanya memendam aksi bullying yang dilakukan I karena pelaku sering mengancam akan memukulinya kembali jika mengadu. Termasuk saat gigi B patah.(*)

LEAVE A REPLY