Dinyatakan Bersalah, Kepala Bapol PP Cik Raden Dihukum Satu Bulan Penjara

0
569
Rumah Tahanan Lembaga Permasyarakatan (Ilustrasi)

RUBRIK, BANDAR LAMPUNG – Majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang menjatuhkan hukuman kepada Kepala Badan Polisi Pamong Praja Bandar Lampung Cik Raden selama satu bulan penjara.

Hakim menyatakan Cik Raden bersalah atas perkara penggerebekan City Spa sebagai tempat prostitusi terselubung.

Majelis hakim yang diketuai Yus Enidar ini menyatakan, perbuatan Cik Raden melanggar hukum sebagaimana diatur dalam pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan jo pasal 56 ke-2 KUHP.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama satu bulan dipotong masa penangkapan dan penahanan,” ujar Yus Enidar dalam persidangan yang digelar, Rabu (21/12/2016).

Putusan ini lebih rendah dari tuntutan penuntut umum yang menuntut CIk Raden penjara selama dua tahun.

Dengan adanya hukuman ini, Cik Raden tidak perlu menjalani masa hukuman penjaranya. Ini dikarenakan, Cik Raden sempat ditahan saat menjalani persidangan oleh penuntut umum dan oleh hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang pada 16 Mei 2016 hingga 17 Juni 2016.

Penggerebekan City Spa bermula pada 9 September 2015 lalu. Cik Raden memanggil dua anggota Pol PP Gusti Zaldi dan Dedi Saputra ke ruang kerjanya. Cik Raden memerintahkan Gusti dan Dedi untuk memantau kegiatan di dalam salon kecantikan/perawatan City Spa.

“Terdakwa memerintahkan Gusti dan Dedi untuk mengetahui apakah di City Spa menyediakan tempat untuk berbuat asusila. Cik Raden meminta Gusti dan Dedi tidak memberitahukan perintah tersebut kepada siapapun.

Setelah memantau City Spa, Gusti melaporkan ada pemijat berinisial O yang mau diajak berbuat asusila. Berdasarkan laporan tersebut, Cik Raden memberikan uang Rp 450 ribu ke Gusti dan Dedi sebagai ganti uang pribadi keduanya saat pijat di City Spa.

Menindaklanjuti laporan Gusti, Cik Raden bermaksud melakukan penggerebekan City Spa. Cik Raden meminta Gusti mengondisikan seolah City Spa melayani kegiatan prostitusi. Cik Raden memberikan uang Rp 750 ribu ke Gusti untuk mengusahakan pemijat di City Spa mau telanjang dan berhubungan badan.

Apabila sudah telanjang dan berhubungan badan, kata Syarief, Cik Raden menyuruh Gusti memberitahu Budi agar Budi masuk menggerebek City Spa. Dengan begitu ada alasan bagi Pol PP untuk mencabut izin City Spa.

Gusti berangkat ke City Spa untuk melaksanakan rencana Cik Raden tersebut. Gusti memesan kamar bersama pemijat. Gusti memaksa pemijat untuk telanjang dan berhubungan badan. Setelah itu, Gusti mengirimkan pesan singkat ke Budi, temannya sesama anggota Pol PP memberitahukan bahwa pemijat sudah telanjang.

Budi dan tim dari Pol PP langsung masuk dan menggerebek Gusti dan pemijat yang sudah telanjang bulat.(*)

LEAVE A REPLY