Berdagang di Tengah Hujan di Sudut Kota

0
1322

Lama Tak Bertemu, Ternyata Pedagang itu Masih Mengenalku

Raden Yusuf/Rubrik Media

Ketika saya melintas di Jalan Ki Hajar Dewantara, wilayah Iringmulyo atau yang kerap dinamai Kampus oleh masyarakat Metro.

Malam ini tepatnya pukul 21.00 WIB. Saya terenyuh ketika melihat seorang penjual yang awalnya saya tak tahu dia menjual apa.

Di tengah hujan yang kadang deras kadang gerimis itu dia berjualan dengan penuh keikhlasan.

Langsung saya hampiri. Rupanya setelah saya hampiri, saya baru tahu dia menjual apa. Ada buah rambutan, petai dan buah lain.

Adalah Bapak Asep. Warga Metro Kibang, Lampung Timur yang baru pertama kali menjual dagangannya di trotoar Jalan Ki Hajar Dewantara.

Dengan sepedanya. Dagangannya dipajang, dari bagian tempat duduk belakang hingga setang depan.

Bagi saya. Bapak Asep bukanlah orang asing. Ada istilah tau wajah tak tau nama, ya. Bapak Asep saya kenal, sejak lama.

Beliau adalah pedagang yang sering berjualan di Pasar Metro dan Pasar Margorejo.

Dulu. Saya sering bertemu dengan beliau. Ketika saya, kerap membuntuti ibu, berdagang di Pasar Margorejo. Mungkin ketika umur saya sekitar 5 hingga 8 tahun.

Sewaktu-waktu, Bapak Asep juga kerap menyetorkan dagangan ke Ibu saya untuk dijual kembali.

Bertahun-tahun tak bertemu. Rupanya Bapak Asep juga masih mengingat saya.

“Pak saya anaknya Bude Gendut. Yang jual di Pasar Pagi itu loh,” kata saya.

Dengan sumringah. Pak Asep langsung menjawab pertanyaan saya. “Oh iya. Udah gede ya sekarang. Kerja dimana sekarang?,” tanya Pak Asep.

Seketika saya jawab. Saya sekarang wartawan di salah satu televisi di Lampung. Beliau menjawab dengan nada syukur kepada tuhan.

“Alhamdullilah, yang dulunya kamu pendiem, sekarang bisa jadi wartawan,” cetusnya.

Singkat cerita, kami mengobrol. Saya ingat betul, anaknya yang dulu kerap diboncengnya diobrok (keranjang bambu untuk sepeda) sepeda untuk berjualan.

Saya ingat betul bagaimana posisi anak itu duduk di obrok, bagaimana gemasnya anaknya ketika dibawa diobrok.

Lantas saya tanya.

“Anaknya yang sering dibawa dulu kemana pak?,” tanya saya. Pak Asep menjelaskan, anaknya ke tiga nya dititipkan di Pondok Pesantren di daerah Iringmulyo.

“Saya pondokkan. Di Pondok belakang koramil itu,” katanya. “Dulu, kamu sama anak saya seumuran hampir imbang, cuma kamu lebih besar badannya,” imbuhnya.

Kemudian saya membeli tiga ikat buah rambutan yang dihargai satu ikatnya adalah Rp 5000. Lantas, saya membeli tiga ikat.

“Saya beli tiga pak,” kata saya. Dengan tergopoh-gopoh karena hujan, dia langsung mengikatkannya.

Di tengah jalan saat saya bergegas. Saya berdoa supaya, dagangan Pak Asep habis terjual. Dan yang terpenting, perniagaannya mendapat berkah dan nilai lebih di mata Allah SWT. (*)

LEAVE A REPLY